Udah lama banget ngga menulis nih, sepertinya orang moody sepertiku harus menyadari apa sebenernya yang memotivasiku untuk membuat sebuah tulisan. Kembali menggali memori yang kini terkubur dalam otak, kembali bernalar dalam sepi, sedikit merenung dan mengembalikan momen-momen itu dalam alam bawah sadar. Entah harus menggalinya di otak bagian mana, tapi akan kucoba jabarkan dalam abstrak tulisan ini.
Berbeda dengan tulisan sebelumnya, tulisan ini bisa dibilang pengalaman yang berharga dalam hidupku. Alhamdulillah, setelah melalui serangkaian perjuangan yang panjang dan melelahkan akhirnya gw berhasil diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, fakultas impianku sejak kecil. Semua ini benar-benar diluar perkiraan, bermula dari mimpi kedua orangtuaku yang menggambarkan anak bungsunya ini diterima di FKUI.
Saat itu, ayahku masih sakit, ibunda menemani beliau dirawat. Tiba-tiba telpon berdering dirumah, “Anom, ibu sama bapak mimpi kamu diterima di FKUI! semoga kesampaian ya nak” tutur ibuku. “ Ah yang bener bu? Amiiiin keterima, doain ya bu, biar jadi satu-satunya di keluarga yang jadi dokter” balasku. Kabar gembira tersebut kembali membakar bara semangat diriku yang sebentar lagi menjalani SNMPTN, dan setelah SNMPTN berlalu aku gagal diterima (baca posting sebelum ini).
SIMAK pun aku lewati, semuanya benar-benar diluar ekspektasi nalar berpikirku, bagaimana tidak?persiapanku bisa dibilang sangat pas-pasan, setelah SNMPTN aku tidak memikirkan untuk ikut SIMAK.
Tercatat, saat itu tanggal 19 Juli, dua hari setelah ulang tahunku, seorang teman menelponku pagi-pagi sekali “NOM!!! SELAMAT YA LOO KETERIMA DI FKUI!! YA ALLOH HEBAT BGT LO NOMM!” teriak temanku di telpon , “AH!Yang bener lo ram? Masa sih? Gw diboongin nih ya? Ah ngerjain loooo” balasku. Kebetulan temanku yang satu ini adalah anak fasilkom 2010 yang ikut BEM UI di departemen kesejahteraan mahasiswa, setelah ditelisik, ternyata ia mengantongi semua mahasiswa baru yang diterima melalui jalur SIMAK, maklum sosialisasi BOPB kan menjadi urgensi penting bagi setiap mahasiswa.
Setelah dicek, ternyata benar! Aku diterima melalui jalur SIMAK, jalur yang terbilang sangat mustahil dengan persiapan minim dan kuota yang sedikit. Masih teringat jelas dalam memoriku, 17 orang dari 5.900 orang pesaing lah yang akan diterima FKUI. Jika bukan karena mukjizat dari Allah hal tersebut mungkin sangat sulit diterima akal sehat.
Kebahagiaan itu begitu terasa di rumahku namun saat itu ayahku masih terbaring di rumah sakit, masih bergelut dengan sakitnya. Aku cukup senang, melihat ayah ibuku, mereka bahkan menangis mendengar berita dari anak bungsunya ini. Entah, momen langka itu terekam jelas dalam ingatanku, tersibak jauh kedalam lautan memori terakhir mengenai ayahku.
Melewati masa-masa liburan kuliah, kondisi ayahku semakin memburuk, aku sekeluarga sering menginap dirumah sakit untuk menunggu ayahku, kondisinya semakin parah, aku bahkan tidak tega melihatnya.
Hingga tiba suatu saat….. aku alpha menjaga ayahku yang sedang dirawat, aku memutuskan untuk ikut OBM, sore hari, kakakku datang kerumah, niatnya sih ngambil baju-baju buat ganti, sama sekalian jemput aku buat nginep di RS. Sekitar pukul 18.05 , ibuku menelpon , memberitahu bahwa ayahku sudah tiada. Beliau meninggal…Semua begitu cepat…
Kebahagiaan tersebut tampak sirna, menghilang disembunyikan anak kecil yang entah lari kemana. Aku termenung, hal ini terjadi begitu cepat, aku masiih berusia 19 tahun, aku belum siap…. pikiran berkecamuk, semua bagai siluet putih yang terekam cepat, ayahku bahkan belum sempat melihat anak bungsunya ini dilantik menjadi dokter.
Entah, aku tidak mengerti bagaimana perasaanku saat itu, kehilangan seorang yang sangat penting dalam hidup, seorang ayah yang tegas dalam membina anak-anaknya. Seorang ayah yang dermawan, paling sukses dikampungnya, dan menginspirasiku dalam pendidikan.
Hal yang paling membuatku menyesal adalah aku sering menyepelekan beliau, berpikir bahwa beliau pasti segera sembuh, tetapi Allah berkata lain.
Kami sekeluarga mengantarkan beliau ke peristirahatan terakhirnya di Malang, semua sanak saudara kami berasal dari Malang, Jawa Timur.
Teruntuk teman-temanku, sayangilah mereka (orangtua kalian) sebagaimana mereka menyayangi kalian diwaktu kecil, adakah mereka pamrih merawat kalian diwaktu bayi? Percayalah bahwa bentakan,amarah,emosi, dan cercaan adalah murni niat ikhlas mereka untuk mendewasakan kalian, bagaimanapun juga mereka ingin kalian sukses, bahkan melebihi kesuksesan mereka sendiri. Adakah didunia ini yang mampu memberikan kasih sayang sebesar kasih sayang mereka berdua? Tentu saja…Tuhan..Doakanlah mereka secara ikhlas kawan.
mungkin aku akan sedikit menceritakan riwayat penyakit ayahku, beliau sejak SMP terkena kanker Tyroid (di sekitar leher) , tahun 2006 sudah dilakukan operasi pengangkatan kankernya, beliau sempat menjalani ablasi dan kemoterapi. Hal ini sedikit banyak memengaruhi kemampuan beliau untuk menelan makanan, ya agak susah tentunya. Semenjak itu ayahku tidak bisa menelan makanan dengan baik. Berselang empat tahun, ayahku terkena diare, selama sepuluh bulan, bukan main, hal ini menyebabkan ayahku kehilangan banyak berat badan, tercatat dalam sepuluh bulan turun sekitar 30 kilo, dari berat awal 70 lebih hingga 40an. Diagnosis dokter mengatakan ini berasal dari kanker tyroid yang diderita sebelumnya, karena berat badan turun banyak, ketahanan tubuh beliau menurun drastis, terakhir tercatat beliau terkena infeksi paru-paru.